#PassionTalk1: Hak Menjadi Seorang Penyandang Disleksia
Mengulang kembali NHW 1 ceritanya... Biarlah NHW 1 yang ini tidak dikumpulkan. Tapi aku jadi tahu apa yang benar-benar menjadi renjana (passion) aku kan... 😉
Oke, jadi, setelah mengerjakan NHW 3 kemarin dan mengerjakan daftar renjana, semakin yakin kalau passion ku adalah berbagi ilmu, terutama di bidang pembelajaran bahasa (Baca: Menemukan Jati Diri dan Misi Keluarga (Syifa Nauval Muftia_NHW#3)) Dan hal yang saat ini benar-benar membuatku gemas bergetar ingin bergerak? Yaitu:
Penyetaraan hak belajar bagi semua anak, terutama anak ABK. Seperti anak disleksik.
Dalam universitas kehidupan ini, aku ingin mendalami penyelenggaraan hak belajar bagi semua anak, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Lebih-lebih, bagi anak dengan disleksia.
Mengapa?
Dalam sila ke 5 dasar negara kita, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tentu mencakup keadilan pendidikan. Anak dengan kebutuhan khusus pun tidak terkecuali. Sayangnya, hal tersebut sering terlewat dari perhatian guru dan pemangku kebijakan pendidikan di negeri ini.
Ada sebuah TedX Talk yang bagus banget dari Samantha Coppola, seorang siswa dengan disleksia. Yuk ditonton.
Klik di sini kalau ngga bisa diplay.
Selain itu, aku juga punya sedikit bekal ilmu mengenai hal tersebut. Walau tak banyak, tapi cukup menjadi dasar. Dan aku pun sangat bersedia untuk belajar dan memperbaharui ilmu. Jadi, apa yang akan menghentikan langkahku? 😃
Namun tetap, ada adab ilmu yang harus diperhatikan sebelumnya.
Aku sudah berniat untuk mengambil program master tentang disleksia dan pembelajaran bahasa Inggris. Bismillah, Mudah-mudahan Allah memudahkan langkahku.
Doakan ya teman-teman :))
Komentar
Posting Komentar