Menemukan Jati Diri dan Misi Keluarga (Syifa Nauval Muftia_NHW#3)

NICE HOMEWORK #3
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*

Assalamu'alaikum wr wb... Hai lagi, untuk NHW ini edisi spesial lho. Karena NHW ini dibuat penuh tjinta ❤😂 Hahaha. Setiap NHW memang istimewa. Di tiap tugasnya, bukan hanya diri ini saja yang belajar dan bertumbuh, tapi juga seluruh keluarga bahkan lingkungan sekitar kita.

Nah, karena topik NHW #3 kali ini adalah "Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah", pastinya seisi rumah juga terlibat dalam perencanaan pembangunannya. Untuk menjadi "arsitek" pembangunan peradaban, haruslah dimulai dari seorang ibu. Mengutip kata-kata Bu Septi Peni, "Ibu adalah salah satu arsitek peradaban,". Maka, sebelum bisa mengikutsertakan keluaganya sebagai bagian dari peradaban, seorang ibu harus bisa mengenali potensi diri sendiri dan keluarganya. Dari potensi tersebut, ibu akan tahu dari segi apa keluarganya dapat berkontribusi pada peradaban. #tsaaah

Berikut pembahasan NHW #3 Matrikulasi #6 IIP:

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini:
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Well, agak lucu juga sih respon suami, karena dia cuma ngangguk2 sambil bilang "It's touching, I'm happy", dan "[It] reminds me of the moment at KrangKring (when he proposed me)" 😂. Udah gitu aja. Biasanya sih ga jaim amat begindang yee... Tapi yha sudahlah #ngarepdipeluk 😴

Mau baca love letter saya yg super cheesy? Boleh klik di sini

b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Anakku Arta (28 mo) ceria dan penuh energi, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Karena Arta masih batita, sepertinya wajar kalau dia masih excited dengan segala hal. Which is a good thing, since I can introduce a lot of things to him. InsyaAllah.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda.

Wah, ini pertanyaan sederhana yang jawabannya bisa berhalaman-halaman nih 😂 Tapi jangan risau, sodara2. Ibu Fasilitatorque tercinta, Teh/Mbak (?) Nugraheni membagikan tips menyelami diri dan mengenali potensi. Yaitu dengan metode 4E (enjoy, easy, excellent, earn), atau mengelompokkan kegiatan dengan kategori berikut :

- suka dan bisa

- suka tapi tidak bisa

- bisa tapi tidak suka

- tidak suka dan tidak bisa


Mari bahas metode 4E dulu ya.

(Sorry for the lame graphic, lol. Bikinnya dadakan dan seadanya, soalnya googling bagan siklus begini ga ada)


Terdiri dari apa sajakah 4E?

1. Enjoy. Ketika kita enjoy/menyenangi apa yang kita lakukan, maka kita akan merasa ⤵ 

2. Easy (mudah mengerjakan setiap tantangan yang ada di depan mata kita. Lalu kita akan ⤵

3. Excelent (berprestasi karena kita melakukannya dengan senang dan mudah berhasil menaklukkan setiap tantangan sehingga hasilnya excelent) lalu setelah itu kita akan ⤵

4. Earn, yaitu produktif di bidang yang disenangi oleh kita. Disini kita akan menjadi pribadi yang bisa menebar manfaat.

Lalu, hal apa yg masuk ke masing2 kategori 4E + suka & bisa tersebut?

Daftarnya sangat tidak struktural -..-

Berarti kesimpulannya, yang masuk ke semua 4E+ adalah... Bahasa Inggris + memberikan inspirasi bagi orang lain. Baik itu dalam bentuk ilmu, ataupun ketika bersosialisasi. Hore! 🎉

Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg Anda miliki.

Setelah ditemukan bahwa renjana (passion)ku adalah mengajar bahasa Inggris, tentunya mendidik tidak hanya pada orang lain saja. Tentu utamanya, menjadi pendidik utama dan pertama bagi keluarga.

Ketika Arta didiagnosis GBE (Gangguan Bahasa Ekspresif) pada usia 23mo, sebagai guru bahasa diriku tercengang bagai disengat engang #pffft. Kok bisa aku yg bawel begini anaknya speech delay? Terlebih lagi, bagaimana anak dengan  neurodiversity dan keunikan seperti disleksia? Tapi dengan kejadian ini dan kuasaNya, Allah berikan aku pelajaran berharga. Bahwa tidak semua anak mudah mempelajari bahasa. Dan bagi yang tidak menemui kesulitan belajar bahasa, jangan sombong dan 'merendahkan' mereka yang kesulitan. 

Dan semakin menguatkan tekadku untuk memahami dan menolong  dyslexic learners yang kesulitan berbahasa.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Mungkin ada misi tersembunyi yang Allah titipkan untuk saya. Walau belum terbukti jumlah pastinya, dengan perkiraan rasio penyandang disleksia 1:10 orang, di lingkungan sekitar saya pasti banyak orang dengan disleksia. Mereka tersembunyi dari asesmen dan diagnosa, terlabeli oleh sesuatu yang bukan mereka. Label bodoh, malas dan kurang berusaha sudah tak layak disematkan pada mereka.

Sudah saatnya para penyandang disleksia tahu kondisi dan potensi mereka. Harus ada yang peduli pendidikan inklusif, mengakomodasi dyslexic learners agar potensi maksimal mereka dapat tercapai. Dan keluarga kami, insyaallah, akan ikut berpartisipasi menolong dan menyebarkan kesadaran disleksia.



Alhamdulilah. Sekian NHW #3 kali ini. Sampai berjumpa di NHW berikutnya~~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love letter to Adryan

[#SSTDesember15] Main Ke Playground Pengganti Sesi Terapi Okupasi